AHLAN WASAHLAN...WELCOME TO MY BLOG, SELAMAT DATANG DI BLOGKU, SUGENG RAWUH TENG BLOG KULO. ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI, MARI KITA HORMATI ULAMA DAN KYAI SEBAGAI PEMEGANG ESTAFET RISALAH RASULULLAH SAW.

Sunday, May 8, 2011

K.H. MOENAUWIR AL HAFIDZ, KRAPYAK - YOGYAKARTA

Di paruh pertama abad dua puluh, bisa dibilang Krapyak adalah tujuan utama santri-santri yang ingin menghafalkan Al-Quran. Dan di Krapyak, sosok kharismatik Mbah Moenawirlah yang merupakan inti magnetnya.

Kiai sepuh kelahiran Kauman Yogyakarta itu memang luar biasa. Tanda-tanda akan menjadi ahli Al-Quran sudah nampak sejak putra Kiai Abdullah Rosyad itu masih kecil. Ia telah mengkhatamkan Al-Quran sebelum usianya menginjak delapan tahun.


Moenauwir kecil, yang merupakan cucu Kiai Kasan Besari (senopati Pangeran Diponegoro untuk wilayah Kedu), juga pernah ditantang ayahandanya untuk mengkhatamkan pembacaan Al-Quran dalam waktu satu minggu. Waktu itu ia dijanjikan akan diberi hadiah Rp. 150,00 bila mampu. Ternyata Moenauwir berhasil memenuhi tantangan tersebut. Bahkan sejak itu ia selalu istiqamah mengkhatamkan Al-Quran seminggu sekali, meski tanpa hadiah.


Kehandalannya dalam membaca Al-Quran dengan fasih bahkan diakui gurunya, Kiai Kholil Bangkalan. Ketika usianya hampir menginjak 10 tahun, orang tuanya mengirim Moenauwir kecil untuk nyantri Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura. Mengetahui kefasihan salah seorang santrinya dalam membaca kalam ilahi, Kiai Kholil memerintahkan Moenauwir untuk mengimami shalat jamaah. Sementara Kiai Kholil sendiri berdiri sebagai makmum di belakangnya.


Bermukim di Haramain

Selepas dari Bangkalan, Kiai Moenauwir mengaji ke beberapa ulama besar seperti Kiai Soleh Darat, Semarang, dan Kiai Abdurahman, Watucongol, Muntilan, Magelang. Usai mengaji di beberapa pesantren, tahun 1888 Moenauwir muda pun bermukim di Al-Haramain selama 21 tahun.

Enam belas tahun pertama dihabiskan Moenauwir di Makkah khusus untuk mempelajari dan mendalami Al-Quran beserta cabang keilmuannya. Beberapa gurunya yang mengajarkan tahfizh, tafsir dan qiraat sab’ah di Makkah antara lain Syaikh Abdullah Sanqoro, Syaikh Sarbini, Syaikh Mukri, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Manshur, Syaikh Abdus Syakur dan Syaikh Musthofa.


Karena kecemerlangannya dalam mengaji, guru qiraat sab’ahnya, Syaikh Yusuf Hajar, memberinya ijazah sanad qiraah yang bersambung hingga Rasulullah, sesuatu yang sangat jarang didapatkan murid-murid Syaikh Yusuf karena sangat sulit persyaratannya. Dalam silislah tersebut Kiai Moenauwir berada pada urutan ketiga puluh lima. Ada juga sanad lain yang diperolehnya dari Syaikh Abdul Karim bin Umar Al-Badri Ad-Dimyathi, yang sedikit lebih pendek.


Untuk memantapkan hafalan Al-qurannya, Kiai Moenauwir juga melakukan riyadhah berjenjang. Tiga tahun pertama ia mengkhatamkan Al-Quran setiap tujuh hari sekali. Tiga tahun kedua ia mengkhatamkan Al-Quran tiga hari sekali. Dan tiga tahun ketiga Kiai Moenauwir mengkhatamkan Al-Quran setiap hari. Riyadhah tersebut ditutup dengan membaca Al-Quran tanpa henti selama 40 hari 40 malam. Riyadhah tersebut, menurut Kiai Nur Kertosono buku Sejarah Perkembangan Krapyak, membuat mulut Kiai Moenauwir sempat terluka dan mengeluarkan darah.


Usai tirakat, Kiai Moenauwir lalu melanjutkan pengajian ilmu-ilmu syariat lain, seperti fiqih dan tauhid, di Madinah selama lima tahun berikutnya. Setelah itu barulah ia pulang ke kampung halamannya di Kauman, Yogyakarta.


Di Kauman ia membuka sebuah pengajian kecil di langgarnya, menambah semarak pengajian-pengajian Al-Quran di lingkungan keraton tersebut. Tahun 1909, karena jumlah santrinya semakin banyak, Kiai Moenauwir memindahkan pesantrennya ke kampung Krapyak. Menurut beberapa sumber kepindahan tersebut juga dilakukan ayahanda Kiai Warson, penyusun kamus Al-Munawwir, itu untuk menghindari kewajiban seba kepada sultan.


Pesantren Krapyak diawali dengan sepuluh orang santri dan mencapai jumlah enam puluh orang pada sepuluh tahun pertama. Setelah tahun 1920 jumlah santri Krapyak berkembang dengan sangat pesat hingga mencapai ratusan orang. Santri-santri Kiai Moenauwir generasi awal itulah yang kemudian mengembangkan pengajian tahfizhul Quran ke seluruh penjuru tanah air. Beberapa pesantren kemudian berkembang pesat. Sebut saja Pesantren Yanbu’ul Quran, Kudus (didirikan K.H. Arwani Amin Al Hafidz), Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo (didirikan K.H. Ahmad Umar Al Hafidz), Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo (K.H. Muntaha Al Hafidz), Pesantren Kempek, Cirebon (K.H. Umar Sholeh Al  Hafidz), Pesantren Benda Bumiayu, Brebes (K.H. Suhaimi) dan lain-lain. Termasuk juga Kiai Moefid Mas’oed  Al Hafidz pendiri dan pengasuh pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, yang tidak lain adalah menantu Kiai Moenauwir.


Dua Tahun

Mengaji gaya Krapyak memang tidak mudah. Selain harus memperhatikan benar panjang-pendeknya bacaan, pengucapan huruf (makharijul huruf) juga diawasi dengan sangat ketat. Tidak jarang untuk mampu membaca Surah Al-Fatihah dengan benar, seorang murid harus menghabiskan waktu berbulan-bulan. Bahkan pada masa Kiai Moenauwir, pernah ada santri yang menghabiskan waktu sampai dua tahun untuk membaca surah Al-Fatihah dengan baik dan benar.

Apalagi jika ingin mendapatkan ijazah silsilah sanad Al-Quran dari Kiai Moenauwir. Bukan hanya kemampuan membaca dan menjaga hafalan yang menjadi tolok ukur, tetapi juga perilaku selama nyantri di Krapyak. Ketatnya persyaratan memperoleh ijazah sanad belakangan juga diberlakukan kiai-kiai alumni Krapyak terhadap para santrinya.


Meski tidak semuanya mengantongi ijazah sanad, namun pesantren-pesantren alumni Krapyak tetap saja merupakan produsen terbesar huffazh di tanah air. Pesantren Sunan Pandanaran, misalnya, setiap tahunnya mewisuda tidak kurang dari tiga puluh orang santri huffazh. Demikian pula di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, dan Al-Asy’ariyyah, Kalibeber, Wonosobo.


Karena bersumber dari satu almamater, program pengajian Al-Quran di pesantren-pesantren tahfizhul Quran di Jawa pun rata-rata sama. Diawali dengan tahfizh juz 30 atau juz ‘Amma, kemudian disusul program bin nazhar atau membaca 30 juz dengan tartil. Dua program tersebut wajib diikuti seluruh santri. Setelah khatam bin nazhar, barulah santri dapat mengikuti program bil ghaib atau tahfizh 30 juz.


Semua jenjang pengajian tersebut menggunakan metode pengajaran mushafahah atau sorogan, yakni satu persatu santri menghadap gurunya untuk menyetorkan bacaan atau hafalannya. Untuk program Juz ‘Amma, setoran saat mengaji biasanya per surah. Sedangkan untuk program bin nazhar batas setoran adalah per maqra’. Lain lagi dengan program bil ghaib 30 juz yang setoran mengajinya dihitung per halaman. Sebelum diijinkan meneruskan oleh sang guru, para santri akan terus mengulang-ulang bacaan atau hafalan sebelumnya.


Agar seragam, pesantren-pesantren tahfizhul Quran alumni Krapyak biasanya menggunakan Al-Quran yang sudah ditashih Kiai Arwani Amin Kudus. Al-Quran tersebut lazim disebut “Al-Quran Ayat Pojok”, karena setiap halamannya ditutup dengan akhir ayat, sehingga tidak ada potongan ayat yang berada di halaman berikutnya. Ini untuk memudahkan santri dalam menentukan batas menghafal atau menyetorkan hafalan.


READ MORE - K.H. MOENAUWIR AL HAFIDZ, KRAPYAK - YOGYAKARTA

Wednesday, April 27, 2011

KH Muntaha Al-Hafiz, Wonosobo

KH. Muntaha Alhafidz atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Mun adalah seorang ulama legendaris, dan Kharismatik. Beliau dijuluki sang Maestro Al-Qur'an. Dibawah kepemimpinan beliau inilah Al-Asy'ariyyah menemui kemajuan yang sangat pesat, dengan pertambahan santri yang menjadi ribuan dan juga pertambahan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Asy'ariyyah. Dan dengan satu karya yang sangat fenomenal yaitu Al-Qur'an Akbar (Al-Qur'an terbesar di dunia) yang kini disimpan di bait Al-Qur'an Taman Mini Indonesia Indah 
Nama lengkapnya adalah KH Muntaha al-Hafiz bin Asy`ari bin `Abdul Rahim bin Muntaha bin Muhammad adalah pengasuh dan penerus Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al-Asy`ariyyah. Beliau dilahirkan pada 9 Juli 1912 di desa Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau memulai pengajian formal agamanya di Darul Ma'arif, Banjarnegara di bawah asuhan Syaikh Muhammad Fadhlullah As-Suhaimi yang masih terhitung kerabatnya. Setelah tamat di Darul Ma'arif, beliau meneruskan mondok di Pesantren Tahfidzul Quran Kaliwungu, Kendal di bawah asuhan K.H. Utsman sehingga berhasil menghafal al-Quran ketika berusia 16 tahun. Setelah itu, beliau mendalami ilmu qira'ah di Pesantren Krapyak di bawah asuhan K.H. M. Munawwir Al Muqri Alhafiz. Lalu beliau melanjutkan studinya di Pesantren Termas, Pacitan dengan  mendalami ilmu hadits, fiqh dan tafsir di bawah asuhan Kiyai Dimyathi.

Dalam perjuangan mendapatkan kemerdekaan negara Indonesia, KH Muntaha Al-Hafiz tidak ketinggalan berjuang menjadi komandan BMT (Barisan Muslimin Temanggung) yang bertempur dengan penjajah Belanda di Palagan Ambarawa. Kiyai Muntaha Al-Hafiz juga terkenal sebagai seorang ulama multidimensi yang mempunyai berbagai ide yang cemerlang. Dalam dunia pendidikan KH Muntaha al-Hafiz merupakan teladan karena keberhasilannya mengembangkan pendidikan di bawah naungan Yayasan al-Asy'ariyyah. Yayasan tersebut saat ini menaungi berbagai lembaga pendidikan, antara lain : Taman Kanak-Kanak (TK) Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, Madrasah Diniyah `Ulya, Sekolah Madrasah Salafiyah al-Asy'ariyyah, Tahfidzul Qur'an, SMP Takhasus Al-Quran, SMU Takhasus al-Quran, SMK Takhasus al-Quran, Universitas Sains al-Quran (UNSIQ), khusus untuk Perguruan Tinggi UNSIQ ini di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu al-Quran (YPIIQ). Selain mengatur soal pendidikan, beliau turut aktif menjalankan dakwah bahkan beliaulah yang membentuk Korps Dakwah Santri (KODASA). Korps ini merupakan wadah bagi aktivitas santri Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah dalam menyiarkan Islam, baik yang diperuntukkan bagi kalangan santri (sesama santri) dalam rangka meningkatkan kualitas diri, maupun kepada masyarakat banyak.

Dalam perjuangan memasyarakatkan al-Quran, KH Muntaha telah mendirikan Yayasan Himpunan Penghafal al-Quran sebagai wadah untuk menghimpunkan para hafiz dan hafizah. Kepada murid-muridnya, beliau anjurkan agar mengkhatam al-Quran seminggu sekali. Selain menghafal al-Quran, beliau turut mengarang sebuah tafsir al-Quran diberi judul "Tafsir al-Munthaha".


KH. Muntaha al-Hafiz menghembuskan nafasnya yang terakhir pada hari Rabu, 29 Desember 2004 dalam usia 92 tahun. Mudah-mudahan rahmat Allah senantiasa dilimpahkan kepada beliau, guru-guru beliau dan muslimin dan muslimat sekalian.

READ MORE - KH Muntaha Al-Hafiz, Wonosobo

K.H. Saefudin Zuhri

Asal-usul Keluarga dan Pendidikan
Saifuddin Zuhri dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bernama Siti Saudatun, istri Mohammad Zuhri pada tanggal 1 Oktober 1919 di Kawedanan Sokaraja – Tengah Banyumas Jawa Tengah.
Saifuddin dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ibunya berprofesi sebagai perajin batik, sedangkan ayahnya seorang petani. Meskipun berasal dari keuarga yang sederhana, tetapi orang tua Saifuddin memiliki obsesi yang sangat besar. Mereka mengharapkan agar Saifuddin kelak dapat menjadi “orang besar”.


Keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting dalam mengantar hasrat kedua orang tua Saifuddin. Pada masa kecil, pagi dan siang hari, Saifuddin belajar di Sekolah Dasar (Umum) dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Huda Nahdlatul Ulama. Pada malam hari dia mengaji Al-Quran dan mempelajari kitab-kitab kuning di berbagai pondok pesantren yang bertebaran di daerahnya. Pada usia kanak-kanak dia telah fasih membaca Al-Quran dan mengkhatamkan beberapa kitab. Ketika berusia 13 tahun, dia sudah mengkhatamkan kitab Safinah, Qathrul Ghaits, Jurumiyah, dan kitab kuning lainnya.


Ketika berumur 17 tahun, Saifuddin ingin mengembara ke daerah lain karena hausnya ia akan ilmu pengetahuan. Kota Solo, menjadi target tujuannya untuk menambah ilmu pengetahuan. Meskipun dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, dengan tekad dan semangat yang membara Saifuddin tetap berangkat ke kota Solo.


Di kota Solo ini, Saifuddin belajar sambil bekerja untuk membiayai sekolahnya. Awalnya ia berencana menjadi pelayan toko dan pelayan hotel, namun terdengar oleh ayahnya dan melarang rencana tersebut. Dia berusaha kerasa untuk mencari pekerjaan yang lebih baik untuk membiayai sekolahnya. Karena Saifuddin memiliki bakat menulis, maka ia melamar sebagai staf koresponden surat kabar Pemandangan yang terbit di Jakarta untuk bertugas meliput berbagai peristiwa, khususnya politik, yang terjadi di Solo.


Selain di surat kabar Pemandangan, untuk menambah penghasilan ia juga membantu surat kabar berbahasa Jawa, Darmokondo, yang terbit di Solo. Dengan penghasilan tersebut ia berhasil membiayai sekolahnya di Madrasah Mambaul Ulum sampai kelas VIII (kelas tertinggi). Pekerjaannya sebagai wartawan agak terganggu karena sekolah di Mambaul Ulum masuk siang. Karena itu dia memilih untuk pindah ke sekolah lain.


Dari Mambaul Ulum dia pindah ke Madrasah Salafiyah dan diterima di kelas tertinggi. Namun, di sekolah baru Saifuddin hanya bertahan satu bulan karena alasan serupa: waktu belajarnya siang hari. Sulit baginya meninggalkan pekerjaan sebagai wartawan, karena dengan itu dia bisa membiayai sekolahnya.


Tak lama setelah keluar dari dua lembaga pendidikan tersebut, Saifuddin belajar di lembaga pendidikan Al-Islam, juga di kelas yang paling tinggi. Di sekolah ini di merasa kerasan. Pertama, karena sekolahnya masuk pagi sehingga tidak mengganggu pekerjaannya sebagai wartawan di siang hari. Kedua, beberapa mata pelajarannya dinilai cukup menarik, misalnya tajdid (pembaruan).


Pada tahun 1938, di Gedung Habipraya, Solo, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia sebagai perkembangan lebih lanjut dari Sumpah Pemuda 1928. Menurut saifuddin peristiwa ini perlu diliput karena merupakan peristiwa nasional yang “layak berita”. Selain acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, juga karena bahasa Indonesia harus dikuasai oleh setiap warga Indonesia. Karena itulah, Saifuddin mengikuti setiap acara dengan seksama dan meliputnya dengan lengkap. Untuk keperluan ini, dia harus meninggalkan bangku sekolah dan pesantren dalam beberapa hari.


Menjadi Penulis


Tradisi menulis tampaknya telah menyatu pada diri K.H. Saifuddin Zuhri. Topik-topik tulisan yang diangkat bukan sekedar masalah intern NU atau masalah politik dalam negeri, melainkan juga masalah dunia internasional. Jenis tulisannya pun bervariasi, dari artikel, ulasan dalam tajuk koran yang dipimpinnya, sampai analisis dan esai. Ini terlihat jelas melalui karya-karyanya berupa buku berjumlah tak kurang dari 11 buah yang kini bisa dinikmati oleh generasi baru.


Buku-buku karya K.H. Saifuddin Zuhri antara lain; Palestina dari Zaman ke Zaman (1947), Agama Unsur Mutlak dalam National Building (1965), K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Bapak Pendiri NU (1972), Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974), Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (1979), Kaleidoskop Politik Indonesia (tiga jilid: 1981), Unsur Politik dalam Dakwah (1982), Secercah Dakwah (1983), dan Berangkat dari Pesantren – karyanya yang rampung menjelang akhir hayat.


Melalui karyanya, sesungguhnya K.H. Saifuddin ingin menyatakan kepada penerusnya agar tidak sekadar menikmati kekayaan para pendahulunya. Generasi baru itu, selain harus melestarikan tradisi yang baik juga menciptakan sesuatu yang baru untuk generasi berikutnya.


Menjadi Menteri Agama dan Mengembangkan IAIN


Pada tanggal 17 Februari 1962, tepat pada hari Jum’at, Saifuddin diminta menghadap ke Istana Merdeka. Banyak teka-teki memenuhi benaknya ketika dia memenuhi panggilan Bung Karno. Apakah karena urusan DPR atau DPA? Apa soal urusan Sekjen NU? Atau surat kabar Duta Masyarakat? Ternyata dalam pertemuan itu, Bung Karno minta K.H. Saifuddin Zuhri agar menjadi Menteri Agama, menggantikan K.H. Wahib Wahab yang mengundurkan diri.


“Penunjukan Saudara sudah saya pikir masak-masak. Telah cukup lama saya pertimbangkan. Sudah lama saya ikuti sepak terjang Saudara sebagai wartawan, politisi, dan pejuang. Saya dekatkan Saudara menjadi anggota DPA. Saya bertambah simpati. Baru-baru ini Saudara saya ajak keliling dunia, dari Jakarta ke Beograd, Washington, lalu Tokyo. Saya semakin mantap memilih Saudara sebagai Menteri Agama,” ujar Bung karno ketika itu.


Permintaan ini tidak serta merta diambil oleh KH. Saifuddin Zuhri, tetapi beliau justru meminta pendapat terlebih dahulu kepada tokoh teras NU, khususnya K.H. Wahab Chasbullah dan K.H. Idham Chalid. Selain itu, ia juga bertemu dengan K.H. Wahib Wahab dan mencari tahu kenapa Bung Karno memilih dia untuk menggantikan K.H. Wahib Wahab yang mundur sebagai Menteri Agama.


Setelah bertemu dengan tokoh-tokoh tersebut dan semua mendukung permintaan Bung Karno untuk mengangkat K.H. Saifuddin Zuhri menduduki posisi Menteri Agama menggagntikan K.H. Wahab Hasbullah. K.H. Saifuddin Zuhri menjadi Menteri Agama periode kesepuluh pada tahun 1967.


Ketika menjabat sebagai Menteri Agama, K.H. Saifuddin Zuhri berupaya untuk mengembangkan IAIN. Dan upayanya ini membuahkan hasil, IAIN berkembang di sembilan provinsi, masing-masing memiliki cabang di kota kabupaten. Menurut pemrakarsanya, IAIN harus menjadi perguruan tinggi yang memiliki kedudukan strategis dalam rangka mewujudkan tesis agama sebagai unsur mutlak nation building.


Usaha untuk mengembangkan IAIN ini bukan tidak ada tantangannya. Reaksi muncul dari sebagian kalangan DPR dan dari sekelompok masyarakat yang tidak setuju dengan pengembangan IAIN. Mereka menuduh, Departemen Agama seolah-olah hanya menganakemaskan umat Islam. Berarti pemerintah telah berbuat diskriminatif terhadap rakyatnya.


Sebagai orang yang bertanggung jawab atas proyek ini, K.H. Saifuddin berupaya menjelaskan. “Menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan rakyat melalui pendidikan dan pengajaran. Dalam sistem pendidikan kolonial tempo dahulu, hanya segolongan masyarakat kecil yang diuntungkan oleh sistem itu, dengan menikmati berbagai fasilitas dan sarana yang baik. Sementara masyarakat Islam yang mayoritas itu dibiarkan dalam kebodohan.”


Untuk mengembangkan wawasan bagi mahasiswa maupun dosen IAIN, K.H. Saifuddin Zuhri membuat kebijakan mengirim mereka belajar ke luar negeri, misalnya ke negara Timur Tengah. Di antara nama-nama yang pernah mendapat beasisiwa adalah zakiah Daradjat di Ain Syams Kairo, Mesir dan Abdurrahman Wahid di Al-Azhar di kota yang sama.


Jika saat ini banyak pejabat yang aji mumpung ketika menduduki pos-pos tertentu yang strategis, namun tidak bagi K.H. Saifuddin Zuhri. Hal ini terlihat ketika sang adik (ipar), Mohammad Zainuddin Dahlan menghadap dan memohon untuk dihajikan dengan biaya dinas (abidin) Depag. Departemen Agama memang lazim menghajikan orang-orang tertentu, baik sebagai hadiah maupun kepentingan sebagai petugas haji.


Namun permintaan sang adik ipar (Mohammad Zainuddin Dahlan) tidak dikabulkan oleh sang kakak (ipar). K.H. Saifuddin Zuhri menjawab keinginan Mohammad Zainuddin Dahlan dengan jawaban, “sebagai orang yang berjasa dan mengingat kondisi perekonomianmu belum memungkinkan, sudah layak jika Departemen Agama menghajikan. Apalagi kamu pernah berjuang dalam perang kemerdekaan. Tapi ada satu hal yang menyebabkan saya tidak mungkin membantu melalui haji departemen. Karena kamu adikku. Coba kamu orang lain, sudah lama aku hajikan....” ujar K.H Saifuddin Zuhri.


Pernikahannya dengan ibu Solichah, K.H. Saifuddin Zuhri dikaruniai sepuluh putra-putri. Mereka adalah Dr. Fahmi Dja’far (yang beristrikan Dra. Maryam putri tokoh NU K.H. Ahmad Syaikhu); Farida (bersuamikan Ir. Shalahuddin Wahid putra ketiga K.H. Wahid Hasyim – adik kandung Abdurrahman Wahid); Anisa, istri Dr. Solichul Hadi (mantan aktivis PMII); Aisyah, yang dipersunting Drs. Wisnu Hadi (pengusaha); Andang FN; Baehaqi, berpendidikan di Kairo dan Belanda yang menikah dengan Gitta (Gadis Belanda); Julia; Annie; Adib yang menikah dengan Yanti Ilyas (putri K.H.M. Ilyas); dan Lukman Hakim, salah satu politisi terkemuka Indonesia.


Pada akhir 1980-an, K.H. Saifuddin Zuhri memiliki kebiasaan baru yang tidak diketahui oleh putra-putrinya. Setiap habis shalat dhuha, sekitar pukul 09.00, dia keluar rumah mengendarai mobilnya sendiri. Menjelang dzuhur tiba, dia sudah kembali ke rumah. Ke mana gerangan mantan Menteri Agama ini pergi? Dan untuk urusan apa?


Kegiatan ini berjalan cukup lama tanpa satupun anggota keluarganya mengetahui. Sampai suatu hari, salah seorang putranya berhasil memergoki apa yang dikerjakan oleh K.H. Saifuddin di luar rumah. Bukan kepalang kagetnya ketika sang putra mengetahui yang dikerjakan oleh ayahnya selama ini.


Rupanya, sehabis shalat dhuha, dia pergi ke pusat perdagangan Glodok, Jakarta Pusat. Tanpa harus merasa jatuh gengsi, dai berdagang beras kecil-kecilan. Sampai akhir hayatnya, tokoh yang satu ini hidupnya sangat bersahaja. Semasa menjadi pejabat dan tokoh penting, sangat berpantangan dengan budaya aji mumpung. Seandainya dia mau, boleh jadi pada akhir tahun 1980-an itu dia tidak perlu harus keluar rumah setiap pagi untuk menjadi pedagang kecil dan menjual beras.
READ MORE - K.H. Saefudin Zuhri

Friday, July 20, 2007

KH Muhammad Saleh Darat

K.H.Muhammad Saleh Darat lahir di Desa Kedung Cemlung, Jepara, tahun 1820. Ayahnya bernama Kyai Umar seorang prajurit Pangeran Diponegoro.
Pendidikan
Pertama kali ia belajar pada KH Syahid di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah. Kemudian ia meneruskan belajar di Semarang yaitu belajar kepada KH Muhammad Saleh Asnawi Kudus, KH Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (Mufti Semarang), KH Ahmad Bafaqih Ba'lawi, dan KH Abdul Gani Bima. Setamat dari Semarang, Saleh diajak ayahnya ke Singapura untuk masa beberapa tahun, kemudian ia bersama ayahnya menunaikan ibada haji ke Tanah Suci, di tanah suci ayahnya wafat. Di sana ia tinggal selama beberapa tahun untuk menimba ilmu sambil mengajar. Sepulang dari Makkah, ia membuka pesantren di daerah Darat, yang letaknya di pesisir pantai Semarang. Murid-muridnya antara lain KH Hasyim Asy'ari, pendiri pesantren Tebuireng; KH Mahfuz Termas, pendiri Pondok Pesantren Termas, Pacitan; KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah; KH Idris, pendiri Ponpes Jamsaren, Solo; KH Sya'ban, ulama ahli falak; RA Kartini adalah juga seorang muridnya.
K.H. Saleh Darat selalu menekankan kepada para muridnya untuk giat menuntut ilmu. Inti sari Al-Quran, kata dia, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat. Saleh Darat adalah ulama yang mempunyai tradisi intelektual menuliskan buah pikirannya dalam bentuk buku. Buku-bukunya antara lain adalah Kitab Majmu'ah asy-Syariah, Al Kafiyah li al-'Awwam (Buku Kumpulan Syariat yang Pantas bagi Orang Awam), dan kitab Munjiyat (Buku tentang Penyelamat) yang merupakan saduran dari buku Ihya' 'Ulum ad-Din karya Al Ghazali. Buku-buku lain karyanya adalah Kitab Al Hikam (Buku tentang Hikmah), Kitab Lata'if at-Taharah (Buku tentang Rahasia Bersuci), Kitab Manasik al-Hajj, Kitab Pasalatan, Tarjamah Sabil Al-'Abid 'ala Jauharah at-Tauhid, Mursyid al Wajiz, Minhaj al-Atqiya', Kitab Hadis al-Mi'raj, dan Kitab Asrar as-Salah. Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus diterbitkan ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang. Buku-buku itu khususnya digunakan di kalangan pesantren dan majelis taklim di Jawa Tengah.
K.H.Saleh Darat juga dikenal sebagai pemikir di bidang ilmu kalam. Ia adalah pendukung paham teologi Asy'ariyah dan Maturidiyah. Pembelaannya terhadap paham ini jelas kelihatan dalam bukunya, Tarjamah Sabil al-'Abid 'ala Jauharah at-Tauhid. Dalam buku ini, ia mengemukakan penafsirannya terhadap sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat islam menjadi 73 golongan sepeninggal Beliau, dan hanya satu golongan yang selamat. Menurut beliau, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah, Asy'ariyah, dan Maturidiyah.
Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan. Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya. Saleh Darat wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903 dalam usia 83 tahun.
READ MORE - KH Muhammad Saleh Darat

Monday, July 16, 2007

SYEIKH MAHFUZ AT-TARMASI

Syeikh Muhammad Mahfuz Termas lahir di Termas, Pacitan, Jawa Timur, pada 12 Jumadil Awal 1285 H/31 Agustus 1868 M.
Pertama kali beliau belajar pada ayahnya sendiri, yaitu Syeikh Abdullah bin Abdul Mannan at-Tarmasi. Setelah itu beliau melanjutkan belajar di Semarang dengan K.H.Muhammad Soleh Darat Semarang diantara kitab yang dipelajari di sini ialah Syarh al-Hikam (dua kali khatam), Tafsir Jalalain (dua kali khatam), Syarh Al-Mardini dan Wasilah ath-Thullab kitab tentang ilmu falak yang ditashih dan ditasqiq oleh Syeikh Ahmad Alfathani. Kemudian beliau melanjutkan belajar ke Mekah, di sana beliau belajar kepada Syeikh Ahmad al-Minsyawi gurunya di bidang qira'ah, Syeikh `Umar bin Barakat asy-Syami, Syeikh Mustafa al-'Afifi, Sayid Husein bin Sayid Muhammad al-Habsyi, Syeikh Muhammad Sa'id Ba Bashail, Sayid Ahmad az-Zawawi, Syeikh Muhammad asy-Syarbani ad-Dimyathi, Sayid Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan al-Madani. Gurunya yang paling banyak mengajarnya pelbagai ilmu secara keseluruhannya ialah Sayid Abi Bakr bin Sayid Muhammad asy-Syatha, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Ahmad al-Fathani dan lain-lain. Beliau adalah seorang ulama ahli hadits yang handal. Banyak ulama Indonesia yang pernah berguru kepada beliau di antaranya adalah Hadrotussyeikh K.H. Hasyim Asy'ari Tebuireng, K.H. Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras, K.H. Abas Djamil Buntet, K.H. Raden Asnawi Alhafidz Kudus, K.H. Bisri Syansuri Denanyar dan sebagainya. Beliau wafat di Mekah pada 1 Rejab 1338 H/20 Maret 1920 M.
READ MORE - SYEIKH MAHFUZ AT-TARMASI

Tuesday, June 12, 2007

K.H. A. Shahibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) Suryalaya

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus.

Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.

Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung mengabaikan syari'ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Menurutnya, sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syari'ah atau ilmu fiqih. Bahkan, menurutnya lagi, ilmu syari'ah adalah jalan menuju ma'rifat. Ia, sebagaimana lazimnya sosok sufi, tak ingin terkenal. "Ia amat sulit untuk diwawancarai wartawan, karena beliau tak ingin dikenal orang," ungkap Ustadz Wahfiudin, mubaligh Jakarta yang menjadi salah seorang muridnya.

Kendati demikian, ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan gunung-gunung, seperti legenda sufi yang sering mampir ke telinga kita. Yang hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh yang menghalangi dirinya dari Allah swt. Ia akrab dengan berbagai medan kehidupan, mulai dari pertanian sampai pertempuran. Pada tahun 1950-1960-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan. Abah Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik.

Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.

Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah Kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.
READ MORE - K.H. A. Shahibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) Suryalaya

Saturday, May 26, 2007

KH. Abbas Djamil Buntet (1879 – 1946)


Kiai Abas adalah putra sulung KH. Abdul Jamil. Beliau lahir pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di desa Pekalangan, Cirebon. Kakeknya adalah KH. Muta’ad menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon.

Pendidikan
Pertama beliau belajar pada ayahnya sendiri, KH. Abdul Jamil, kemudian ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon asuhan Kiai Nasuha, selajutnya beliau nyantri di pesantren salaf di daerah Jatisari di bawah asuhan Kiai Hasan, lalu beliau meneruskan nyantri di pesantren di Jawa Tengah,tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah.

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya beliau pindah ke Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari. Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren ini beliau bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras dan KH. Abdul Manaf Lirboyo.

Beliau memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Di sana beliau berguru kepada KH. Machfudz Termas. Di Mekkah, beliau bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada para mukimin, santrinya antara lain KH. Cholil Balerante, Palimanan, KH. Sulaiman Babakan, Ciwaringin.

Memimpin Pesantren Buntet
Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet.

Sebagai seorang Kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari dan Tafsir Fakhrurrozi beliau ajarkan di Pesantrennya. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fikih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fikih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju.

Dengan sikapnya itu maka nama Kiai Abbas dikenal ke seluruh Jawa, sebagai seorang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuatu yang tidak menguasainya atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajinya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal di seantero pulau jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah Kiai Abbas menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Dhuhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu disesaki para tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Melawan Penjajah Belanda
Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban.
Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan.
Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Pengajaran kitab kuning diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH. Anas dan KH. Akyas. Sementara Kiai Abbas sendiri, setelah memasuki masa senjanya, lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah.

Dengan gerakan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet saat itu menjadi basis perjuangan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah. Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tanggung dan disegani musuh, kekuata itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjajahan Jepang. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH. Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH. Murtadlo, KH. Soleh dan KH. Mujahid.
Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH. Hasyim Anwar dan KH. Abdullah Abbas putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak didaerah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tesebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hijrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Diantaranya adalah KH. Mujahid, Kiai Akib Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.
Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH. Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu sebelum KH. Abbas, sebagai Laskar andalannya datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November 1945 itu. Atas restu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, KH. Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu.Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. Sekitar tahun 1900, KH. Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, KH.Soleh Zamzam, Benda Kerep, KH.Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi mengganggu pesantren Tebuireng.

Berjuang Hingga Akhir Hayat
Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapangan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.
Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu bepata kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946 itu. Mendengar hasil perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit, yang kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Ahad pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, dimakamkan di pemakaman Buntet Pesantren.
READ MORE - KH. Abbas Djamil Buntet (1879 – 1946)